Budidaya Toek, Kehidupan Masyarakat Mentawai

Budidaya Toek, Kehidupan masyarakat di Mentawai
51

TOPKATA.com, Mentawai – Demi mencukupi kebutuhan hidup sehari- hari dan mengurangi beban kebutuhan, sekelompok ibu-ibu warga Desa Goiso’oinan berjualan Toek di Desa goiso’oinan, Kecamatan Sipora Utara, Kabupaten Kepulauan Mentawai.

Toek sejenis ulat kayu mirip cacing bewarna putih merupakan kuliner tradisional hanya dapat dinikmati di wilayah Kepulauan Mentawai khususnya di Sipora Utara. Selain dapat dikonsumsi pribadi. Toek juga dapat bernilai jual beli dengan harga bervariasi.

Dian (34) salah satu penjual Toek Warga Desa Goiso’oinan mengatakan, harga bervariasi itu. Tergantung besaran batang kayu tempat hidupnya Toek tersebut dan dengan Batang kayu tertentu.

“Cara mengola Toek ini, kayu yang kita ambil untuk menjadikan tempat toek ini tidak sembarang kayu. Kemudian dipotong -potong kayunya dengan panjang 60-70 Cm. Lalu di rendam di sungai selama 6 sampai 10 bulan,” ujarnya.

Baca Juga:  Mudah dan cepat Bikin Kentang Balado

“Yang bikin harganya bervariasi itu, juga tergantung besar batang kayunya,” ujarnya saat di jumpai di lokasi tempat berjualan sekaligus tempat orang-orang memakan Toek di Desa Goiso’oinan, Kecamatan Sipora Utara, pada Sabtu,(22/1/2022).

Iklan 17

Ia menambahkan, apabila curah hujan banyak membuat air menjadi keruh. Tentunya hasil Toek dari batang kayu tidak maksimal. Namun sebaliknya apabila air jernih, Toek yang dihasilkan maksimal dan Toekpun banyak warna putih,besar dan panjang.

“Untuk mengetahui bahwa Toek itu sudah berisi, apa bila kayu yang sudah kita ikat itu menjadi terbenam tidak merapung lagi. Curah hujan juga dapat mempengaruhi kualitas Toeknya. Apa bila sering terjadi banjir,maka kualitas Toekpun tidak bagus,warnanya kemerahan tidak putih” ujar Dian.

Baca Juga:  Mentawai Belajar PTM, 2 Kecamatan Masih PJJ

Diakui, dengan penjualan Toek ini, setidaknya sudah dapat mengurangi beban kebutuhan sehari-hari di masa pandemi.

“Biasanya ramainya pembeli itu pada hari -hari libur. Seperti hari Sabtu dan Minggu. Dengan hasil Rp500 ribu hingga Rp700 ribu. Itu tergantung ramainya pembeli. Tapi kalau hari biasa itu terkadang pembeli hanya memesan di bungkus plastik yang berukuran setenga kilo dangan harga Rp20 ribu per kantongnya” ungkapnya.

Toek makanan tradisional itu menjadi pilihan bagi masyarakat di kepulauan Mentawai. Biasanya, makan Toek disungai juga menjadi tradisi masyarakat pribumi Mentawai.

Adapun kisaran harga toek per batang kayu itu adalah diameter kecil Rp20 ribu hingga Rp50 ribu. Diameter sedang Rp50 ribu hingga Rp100 ribu dan diameter besar Rp100 ribu hingga Rp300 ribu. (Sabarial)

Baca Juga:  Pj Bupati Mentawai Datang, Gempa pun Mengguncang